Showing posts with label kamera pocket. Show all posts
Showing posts with label kamera pocket. Show all posts

Thursday, June 16, 2022

Mempersiapkan Kamera Digital untuk Traveling

Mempersiapkan Kamera Digital untuk Traveling

Sudah punya digicam? Sudah siap buat berangkat traveling juga? Sudah dipacking jug asemua? Eits tunggu dulu, biar kamera digital kita gak ada yang ketinggalan optimal nanti waktu digunakan. Mari periksa beberapa checklist ini.

Kamera.

Ya tentu saja kamera itu sendiri. Kita harus memeriksa, memastikan kamera bisa berfungsi dan digunakan dengan baik. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk pemeriksaan ini? Paling tidak sehari sebelum berangkat kita nyalakan kamera, coba untuk motret beberapa kali. Dari sini kita akan tahu kamera bisa bekerja dengan baik atau tidak.

Digicam paling enak buat diajak traveling adalah yang bisa masuk saku.

Lalu apa lagi? Periksa juga tombol-tombol fungsinya, siapa tahu ada yang gak beres. Untuk memastikan saja, seumpama memang ada yang gak beres, kita jadu tahu lebih awal dan gak dibikin panik waktu traveling. Ya kadang juga kamera digital kita ini memang sudah berusia tua.

Baterai.

Rasa-rasanya batrai kamera sekarang ini semakin murah saja, apa lagi banyak type kamera tapi menggunakan satu jenis batrai yang sama. Tapi kamera poket zaman lawas kadang tiap model punya type batrai sendiri.

Charge juga baterai sampai penuh sebelum berangkat. Jangan lupa untuk membawa chargernya. Siapa tahu nanti bakal butuh lagi, meskipun kita punya batrai lebih dari satu. Punya banyak batrai memang enak apa lagi kalau kamera dipakai sambil jalan, gak bakal khawatir bakal kehabisan daya. Tapi sepengalaman saya selama travelihng bawa digicam, baterai satu saja sudah cukup untuk dua sampai tiga hari. Ya tergantung pemakaian juga sih. Kalau suka pakai flash tentu saja daya baterai akan cepat habis, apa lagi kalau sambil take video ala-ala vintage.

Memori.

SD Card dengan kapasitas 4 GB sudah agak sulit cari yang baru, apa lagi kapasitas yang lebih kecil. Makin sulit lagi carinya kalau memorynya bukan jenis SD Card.

Berikutnya yang menjadi checklist penting sebelum berangkat traveling sambil bawa digicam adalah memory card. Gak kalah krusial karena foto-foto yang kita potret akan tersimpan di kepingan kecli ini. Alangkah baiknya sebelum berangkat lakukan back up data terlebih dahulu. Pastikan juga ada space yang cukup untuk dipakai motret lagi. Kalau memang sudah penuh, back up dulu lalu hapus sajas emuanya. Oh ya, kalau punya lebih dari satu memory bawa saja sekalian buat cadangan. Jaga-jaga kalau memory penuh, mengingat kapasitas memory digicam kadang kurang dari 2 GB (memory ukuran kecil ini sekarang juga susah carinya). Tapi buat penyuka digicam dengan "low megapixel" memory kecil juga akan muat-muat saja sampai ratusan foto.

Case / Tas.

Tambahan aja sih ini biar nantinya aman dan enak dibawa, dari pada dimasukin tas atau dikantongin (secara nama lainnya pocket camera). Digicam akan lebih praktis dan gaya kalau ditaruh di wadah/case khusus. Ada banyak macam desain unik dan ukuran yang beredara di online shop. Dengan wadah ini kamera akan terlindungi dari benturan dan juga tersembunyi. Kalau buat Saya sendiri sih paling suka pakai tas selempang atau waist bag. Tinggal masukin aja, ngambilnya juga gampang, tarik kamera dari dalam tas langsung bisa motret.

Ada banyak case kamera yang lucu-lucu tapi Saya sendiri lebih nyaman pakai tas selempang macam begini. Bisa bawa dompet sapa printilan lainnya.

Semua checklist pemeriksaan buat persiapan traveling ini seharusnya dilakukan satu hari sebelum keberangkatan. Biar tidak buru-buru dan kalau masih ada yang kurang bisa diperbaiki dengan santai.

Wednesday, June 15, 2022

Hunting Foto di Puncak Gunung Bekel dengan Digicam Sony W-350

Hunting Foto di Puncak Gunung Bekel dengan Digicam Sony W-350

 Mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas out door pilihan Saya. Meskipun sejak sebelum berangkat sudah tahu kalau mendaki gunung bakal membuat badan capek semua, tapi tetap saja Saya lakoni. Tentu sedari pertama kali mendaki gunung pengalaman paling excited tak pernah terlewat dari jepretan kamera, walau pun ya kadang gambar tak mampu menyampaikan keseruannya (karena skill motret yang pemula).

Belum lama ini saya naik gunung lagi, bukan yang paling tinggi bahkan masih di bawah rata-rata gunung di Jawa. Gunung ini berada di sebelah barat Gunnug Penanggungan namanya Gunung Bekel. Seperti menjadi pendamping dari Gunung Penanggungan, Gunung Bekel ini selalu menjadi jujugan berikutnya para pendaki setelah mendaki Gunung Penanggungan. Atau mungkin malah menjadi semacam simulasi pendakian sebelum naik ke Gunung Penanggungan yang lebih tinggi dan melelahkan.

Ini ada beberapa foto waktu Saya ke sana. Saat itu Saya berangkat sore hari, jadi sampai puncak pas sudah gelap. Paginya angin kencang membuat langit cerah tidak ada mendung bahkan kabut sama sekali. Menyangkan bisa memotret pemandangan ketika langit cerah.

Tenda kecil yang dihembus angin kencang.

Papan yang menyambut para pendaki, seperti mau memberitahu bahwa sudah sampai puncak.

Jajaran Gunung Arjuno sampai Welirang.

Puncak Bekel itu gak ada pohonnya, savana rumput saja yang luas.

Puncak Gunung Penanggungan.

Tenda pendaki.

Pemukiman di Trawas.

Gungukan Gunung Bekel dilihat dari bawah.

Foto ini diambil saat perjalanan berangkat. Sampai di pertigaan Candi Pura. Waktu itu sudah malam, lumayan capek padahal baru setengah perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh tapi ya nanjak terus. Berhenti sebentar untul istirahat dan ganti headlamp karena yang pertama sudah habis batrainya. Motret pakai digicam Sony W-250 dengan bantuan flash.

Oh ya, ini Saya juga sempat bikin vlog ala-ala solo hiking.

Tuesday, June 14, 2022

Koleksi Foto Landscape Pulau Santen Banyuwangi Sony W-350 digicam

Koleksi Foto Landscape Pulau Santen Banyuwangi Sony W-350 digicam

 Pulau Santen ini buat sampean yang belum tahu, letaknya ada di pesisir timur Banyuwangi. Tepat sebelah selatan Pantai Boom. Jadi kalau dari tengah kota menyusuri jalan ke arah timur lalu agak ke selatan sedikit. Begitu lah mungkin lebih mudah dicari melalui peta digital semacam Google Maps.

Yang pertama kali membuat Saya penasaran dengan pulau ini adalah namanya, Santen. Awalnya Saya kira bakal berkaitan dengan bahan masakan, ternyata tidak sama sekali. Kabarnya nama Santen diambil dari pohon yang banyak tumbuh di pulau ini. Seperti apa pohonnya Saya coba cari tahu lagi-lagi melalui Google Maps. Lho ternyata gak cuma ada deretan pohon santen. Banyak yang bilang ada savana juga di sana, Saya semakin penasaran dan membulatkan tekad buat ke sana.

Tentu saja dengan kamera di saku dan siap motret ke mana saja.

Kalau mau ke Pulau Santen, perhatikan juga kendaraan yang dipakai. Untuk bisa masuk ke dalam pulau hanya ada satu jembatan kayu yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Mobil? tentu saja harus parkir di sebelum jembatan. Oh ya Pulau Santen yang sepertinya terbentuk dari endapan pasir sungai bertemu dengan ombak pantai ternyata juga ada penduduknya. Masyarakat Pulau Santen bermukim di sisi utara pulau, pas setelah masuk melewati jembatan.

Nah sisi selatannya kosong, di tempat ini lah ternyata ada savana. Gak luas sih cuma ya lumayan buat lari-larian. Mungkin seluas lapangan bola tapi lebih panjang dan ada banyak pohonnya.

Bentang alam Pulau Santen.

Pepohonan yang menjorok ke laut. Pantainya ini sepi pengunjung tapi banyak sampahnya, mungkin terbawa arus laut.

Pulau Bali tampak di seberang.

Motret pohon dan rerumputanyang kelihatan bersih karena menutupi sampah.

Ranting kering.

Sarang burung yang mungkin sudah ditinggalkan penghuninya.

Berteduh di antara pepohonan.

Jajaran pohon santen yang menjadi cetus nama pulau ini.

Yang dibilang savana tapi kalau buat Saya ini masih kurang luas banget, tapi boleh lah kalau mau lari-larian di sini, bisa bikin capek juga.

Kalau mau ke sini dan foto-foto aestethic sekalian bawa sapu buat bersihin sampah. Ya masak mau foto cakep tapi sampahnya berserakan. fail.

Garis pantai, gak rekomen buat mandi atau main air, selain memang keruh gak ketahuan juga kedalamannya. Tahu-tahu bisa tenggelam.


Jalan Kaki Keliling Kampung sambil Motret dengan Sony W-350

Jalan Kaki Keliling Kampung sambil Motret dengan Sony W-350

 Pagi hari bagi orang yang punya waktu luang biasa dihabiskan di rumah aja. Atau mungkin akhir pekan. Sesekali mencoba berjalan kaki keliling kampung tidak ada salahnya. Menyapa warga juga sambil olahraga. Dua atau tiga kilometer saja cukup membuat ketiak berkeringat. Biar asyik sekalian bawa kamera, motret-motret random suatu waktu nanti bisa jadi arsip dokumentasi yang apik. Ya kita gak tahu masa depan nanti akan seperti apa tapi dengan mengumpulkan foto-foto gak penting hari ini di sekitar kita suatu saat nanti bisa jadi bukti otentik keberadaan kita.

Oke biar obrolan gak terlalu berat, berikut ini ada beberapa foto yang Saya ambil waktu jalan kaki keliling kampung yang sebenarnya jarang Saya lakukan. Entah nanti akan jadi seperti apa. Paling tidak sudah menabung kenangan.

Listrik tegangan tinggi. Dulu waktu kecil saya suka takjub sama menara kabel listrik yang tinggi seperti ini. Kelihatannya megah sekali.

Kubah masjid di ujung sana.

Gedung sekolah.

Ya Saya kurang paham ini apa tapi bengunan ini sepertinya ditujukan untuk kebutuhan pertanian.

Bekerja di sawah pagi-pagi.

Landscape sawah dengan latar Gunung Penanggungan dan Welirang.

Di tengah sawah sendirian.

Bekerja bersama-sama.

Bunga bugenvil di antara kabel dan langit biru.


Sunday, June 5, 2022

Satu Hari di Malang bersama Sony DSC-W350 Digicam

Satu Hari di Malang bersama Sony DSC-W350 Digicam

Motret kucing santai dengan digicam Sony DSC-W350.

Kamera poket ini sebenarnya milik ibu, dulu dibeli sebelum ibu berangkat rekreasi. Dulu banget jadi udah agak lama gak dipakai sampai akhirnya rusak, kameranya gak bisa nyala.

Waktu bersih-bersih rumah Saya ketemu sama kamera ini lagi. Iseng saya bawa ke tukang service kamera di Malang untuk dicek, siapa tahu rusaknya gak parah dan masih bisa diperbaiki, kan lumayan buat mainan.

Setelah seminggu menunggu, sesuai tanggal yang dijanjikan, Saya kembali ke tukang service buat mengambil kamera. Rupanya kerusakannya gak parah, cuma kelamaan gak nyala aja yang bikin kameranya mati, susah dihidupin. Setelah membayar ongkos service Saya membawa kamera pulang.

Di perjalanan ini Saya coba buat sedikit keliling Kota Malang sekalian nyobain kamera yang baru selesai diservice. Gak banyak setting yang saya ubah waktu itu, semuanya auto. Saya pun motret random, asal-asalan. Cuma pengen tahu gimana rasanya motret lagi pakai kamera poket setelah bertahun-tahun gak memegangnya. Penasaran juga sama hasil fotonya nanti.

Sampai rumah Saya lihat hasil foto di layar kamera, hmm.. lumayan. Mungkin karena dilihat di layar kamera yang kecil dan resolusi rendah jadi terlihat biasa saja.

Kemudian di waktu senggang yang lain. Saya coba copy berkas foto-foto yang ada di memory card kamera ke komputer. Setelah terduplikat di cakram keras komputer, Saya melihat-lihat lagi satu-satu fotonya. Wow.. Saya sempat takjub dengan kualitas foto yang dihasilkan. Meski kamera poket lawas ternya hasil fotonya masih bagus banget, bahkan ketika dibandingkan dengan kamera ponsel masa kini yang sudah canggih-canggih. Tapi kalau dibandingkan sama hasil foto dari kamera DSLR ya masih kalah, kepadatan pixel-nya kelihatan banget.

Elus kucing. Setelah diservice langsung cobain kamera buat motret-motret.

Cobain juga motret jarak dekat, macro pagar besi keropos berkarat.

Gerobak ngetril.

Jalanan lengang Kota Malang.

Selepas lampu merah menjadi hijau.

Penunjuk arah dengan jarak di tengah kota. Sekarang ini dengan peta digital di dalam ponsel penunjuk arah dengan estimasi jarak macam ini apa masih dibutuhkan ya? hmm..

Ijen Boulvard.

Menunggu hijau.

Mampir jajan gorengan.

Waktu itu Saya menganggap kamera ini akan menjadi kamera kedua atau ketiga saja buat main-main. Gak nyangka sekarang jadi ngetren lagi.

Setelah agak lama dan lebih sering lagi bepergian sambil motret dengan kamera ini. Satu hal yang membuat Saya suka dan yakin untuk motret dengan kamera ini adalah ukurannya yang kecil sehingga mudah untuk dibawa-bawa. Ya memang peruntukannya kamera poket begini untuk mobilitas tinggi. Kualitas foto juga bagus cenderung unik.

Traveling Sambil Motret dengan Digicam

Traveling Sambil Motret dengan Digicam

Kamera poket Sony DSC-W350 dalam genggaman, digicam yang sering Saya bawa buat hunting karena mungil..

 Yak belakangan ini demam digicam mulai ngetrend lagi. Kamera yang pernah berjaya di era sebelum smart phone punya kamera yang canggih kini mulai digemari lagi. Entah apa sebabnya, katanya sih karena gambar yang dihasilkan menyerupai kamera film analog, benarkah? Selain itu, kamera analog yang sebelumnya juga sempat ngetrend hingga harga bekasnya melonjak tinggi ditengarai penghobi fotografi beralih dari analog ke digicam yang murah meriah.

Lalu apa hubungannya dengan traveling, bukankah sekarang ini motret dengan kamera di ponsel juga mumpuni? ya memang betul. Apalagi kalau motret dari kamera ponsel, fotonya bisa langsung diunggah ke media sosial tanpa ribet.

Tapi dari keribetan itu, memotret dengan digicam atau kamera digital punya keasyikan sendiri.

Memutuskan membawa kamera digital untuk traveling tentu membutuhkan persiapan, yang pasti selain menyiapkan kamera itu sendiri ialah harus bawa memory card dan batrai beserta chargernya. Kalau jalan-jalannya cuma sebentar mungkin tidak perlu sampai bawa charger, asal batrai sudah penuh. tinggal pakai saja.

Lalu ketika membawa kamera digital seukuran saku (dulu ada istilah kamera pocket/saku) si kamera bisa disakuin, sementara saat ini rata-rata ukuran hape sudah gak ada yang bisa masuk saku. Hape masuk tas dan kita bisa fokus motret-motret pakai kamera digital.

Yang menjadi keribetan (kalo gak boleh bilang kekurangan) dari si digicam ini ialah proses pemindahan file foto ke hape, masih membutuhkan pihak ketiga yaitu laptop/pc. Keribetan ini gak berlaku bagi kamera mirrorless zaman sekarang yang sudah ada wifinya, bisa langsung tranfer ke hape. Kecuali sampean punya kamera pocket kekinian yang sudah ada wifinya, tentu yang sudah dibayar dengan harga yang mahal.

Ada satu solusi sebenarnya untuk mengatasi keribetan transfer file dari digicam yang gak ada wifinya ke hape. Yaitu beli memory card (sd card) yang ada built in wifinya. Saya punya satu ini, dan memang akan sangat membantu.