Tuesday, June 14, 2022

Jalan Kaki Keliling Kampung sambil Motret dengan Sony W-350

Jalan Kaki Keliling Kampung sambil Motret dengan Sony W-350

 Pagi hari bagi orang yang punya waktu luang biasa dihabiskan di rumah aja. Atau mungkin akhir pekan. Sesekali mencoba berjalan kaki keliling kampung tidak ada salahnya. Menyapa warga juga sambil olahraga. Dua atau tiga kilometer saja cukup membuat ketiak berkeringat. Biar asyik sekalian bawa kamera, motret-motret random suatu waktu nanti bisa jadi arsip dokumentasi yang apik. Ya kita gak tahu masa depan nanti akan seperti apa tapi dengan mengumpulkan foto-foto gak penting hari ini di sekitar kita suatu saat nanti bisa jadi bukti otentik keberadaan kita.

Oke biar obrolan gak terlalu berat, berikut ini ada beberapa foto yang Saya ambil waktu jalan kaki keliling kampung yang sebenarnya jarang Saya lakukan. Entah nanti akan jadi seperti apa. Paling tidak sudah menabung kenangan.

Listrik tegangan tinggi. Dulu waktu kecil saya suka takjub sama menara kabel listrik yang tinggi seperti ini. Kelihatannya megah sekali.

Kubah masjid di ujung sana.

Gedung sekolah.

Ya Saya kurang paham ini apa tapi bengunan ini sepertinya ditujukan untuk kebutuhan pertanian.

Bekerja di sawah pagi-pagi.

Landscape sawah dengan latar Gunung Penanggungan dan Welirang.

Di tengah sawah sendirian.

Bekerja bersama-sama.

Bunga bugenvil di antara kabel dan langit biru.


Sunday, June 5, 2022

Satu Hari di Malang bersama Sony DSC-W350 Digicam

Satu Hari di Malang bersama Sony DSC-W350 Digicam

Motret kucing santai dengan digicam Sony DSC-W350.

Kamera poket ini sebenarnya milik ibu, dulu dibeli sebelum ibu berangkat rekreasi. Dulu banget jadi udah agak lama gak dipakai sampai akhirnya rusak, kameranya gak bisa nyala.

Waktu bersih-bersih rumah Saya ketemu sama kamera ini lagi. Iseng saya bawa ke tukang service kamera di Malang untuk dicek, siapa tahu rusaknya gak parah dan masih bisa diperbaiki, kan lumayan buat mainan.

Setelah seminggu menunggu, sesuai tanggal yang dijanjikan, Saya kembali ke tukang service buat mengambil kamera. Rupanya kerusakannya gak parah, cuma kelamaan gak nyala aja yang bikin kameranya mati, susah dihidupin. Setelah membayar ongkos service Saya membawa kamera pulang.

Di perjalanan ini Saya coba buat sedikit keliling Kota Malang sekalian nyobain kamera yang baru selesai diservice. Gak banyak setting yang saya ubah waktu itu, semuanya auto. Saya pun motret random, asal-asalan. Cuma pengen tahu gimana rasanya motret lagi pakai kamera poket setelah bertahun-tahun gak memegangnya. Penasaran juga sama hasil fotonya nanti.

Sampai rumah Saya lihat hasil foto di layar kamera, hmm.. lumayan. Mungkin karena dilihat di layar kamera yang kecil dan resolusi rendah jadi terlihat biasa saja.

Kemudian di waktu senggang yang lain. Saya coba copy berkas foto-foto yang ada di memory card kamera ke komputer. Setelah terduplikat di cakram keras komputer, Saya melihat-lihat lagi satu-satu fotonya. Wow.. Saya sempat takjub dengan kualitas foto yang dihasilkan. Meski kamera poket lawas ternya hasil fotonya masih bagus banget, bahkan ketika dibandingkan dengan kamera ponsel masa kini yang sudah canggih-canggih. Tapi kalau dibandingkan sama hasil foto dari kamera DSLR ya masih kalah, kepadatan pixel-nya kelihatan banget.

Elus kucing. Setelah diservice langsung cobain kamera buat motret-motret.

Cobain juga motret jarak dekat, macro pagar besi keropos berkarat.

Gerobak ngetril.

Jalanan lengang Kota Malang.

Selepas lampu merah menjadi hijau.

Penunjuk arah dengan jarak di tengah kota. Sekarang ini dengan peta digital di dalam ponsel penunjuk arah dengan estimasi jarak macam ini apa masih dibutuhkan ya? hmm..

Ijen Boulvard.

Menunggu hijau.

Mampir jajan gorengan.

Waktu itu Saya menganggap kamera ini akan menjadi kamera kedua atau ketiga saja buat main-main. Gak nyangka sekarang jadi ngetren lagi.

Setelah agak lama dan lebih sering lagi bepergian sambil motret dengan kamera ini. Satu hal yang membuat Saya suka dan yakin untuk motret dengan kamera ini adalah ukurannya yang kecil sehingga mudah untuk dibawa-bawa. Ya memang peruntukannya kamera poket begini untuk mobilitas tinggi. Kualitas foto juga bagus cenderung unik.

Traveling Sambil Motret dengan Digicam

Traveling Sambil Motret dengan Digicam

Kamera poket Sony DSC-W350 dalam genggaman, digicam yang sering Saya bawa buat hunting karena mungil..

 Yak belakangan ini demam digicam mulai ngetrend lagi. Kamera yang pernah berjaya di era sebelum smart phone punya kamera yang canggih kini mulai digemari lagi. Entah apa sebabnya, katanya sih karena gambar yang dihasilkan menyerupai kamera film analog, benarkah? Selain itu, kamera analog yang sebelumnya juga sempat ngetrend hingga harga bekasnya melonjak tinggi ditengarai penghobi fotografi beralih dari analog ke digicam yang murah meriah.

Lalu apa hubungannya dengan traveling, bukankah sekarang ini motret dengan kamera di ponsel juga mumpuni? ya memang betul. Apalagi kalau motret dari kamera ponsel, fotonya bisa langsung diunggah ke media sosial tanpa ribet.

Tapi dari keribetan itu, memotret dengan digicam atau kamera digital punya keasyikan sendiri.

Memutuskan membawa kamera digital untuk traveling tentu membutuhkan persiapan, yang pasti selain menyiapkan kamera itu sendiri ialah harus bawa memory card dan batrai beserta chargernya. Kalau jalan-jalannya cuma sebentar mungkin tidak perlu sampai bawa charger, asal batrai sudah penuh. tinggal pakai saja.

Lalu ketika membawa kamera digital seukuran saku (dulu ada istilah kamera pocket/saku) si kamera bisa disakuin, sementara saat ini rata-rata ukuran hape sudah gak ada yang bisa masuk saku. Hape masuk tas dan kita bisa fokus motret-motret pakai kamera digital.

Yang menjadi keribetan (kalo gak boleh bilang kekurangan) dari si digicam ini ialah proses pemindahan file foto ke hape, masih membutuhkan pihak ketiga yaitu laptop/pc. Keribetan ini gak berlaku bagi kamera mirrorless zaman sekarang yang sudah ada wifinya, bisa langsung tranfer ke hape. Kecuali sampean punya kamera pocket kekinian yang sudah ada wifinya, tentu yang sudah dibayar dengan harga yang mahal.

Ada satu solusi sebenarnya untuk mengatasi keribetan transfer file dari digicam yang gak ada wifinya ke hape. Yaitu beli memory card (sd card) yang ada built in wifinya. Saya punya satu ini, dan memang akan sangat membantu.